malaikat rembulan

on Selasa, 13 November 2012


sudah tengahnya malam yang gulita
aku tergolek lemah bersama setiap keletihan akan apapun
aku hampir menyerah pada setiap kesempatanku mengubah jalan hidupku
entah apa yang kucari dalam hidup

ada perasaan yang mengadukku dengan sakitnya
aku merasa cambuk siksaan dunia ini mengharuskanku melayani si malaikat kematian
aku hampir tidak perduli akan asal mula keberadaanku

aku benci kondisi ini
aku ingin jalan berliku ini menyingkatkan dirinya
ada rindu yang berkecamuk, yang menghempaskanku bersama mimpi sang rembulan
entah terang atau temaram

aku sedikit bernostalgia dengan rasa rindu yang biasa mencekik pembuluh nadiku
aku benci untuk mengakui sang bidadari rembulan
yang datang dikala malam dan pergi di lembabnya fajar
aku rasa merindu yang begitu teramat dalam
lebih dari dia kurasa
aku ingin menipu diriku
akan kehampaan dan ketidak berdayaanku


gambar: http://cvwa.homestead.com/angel-image.jpg

renungan 20

ini tentang hidup saya yang sampai saat ini "saya anggap" masih tidak berdaya


selalu ada perasaan tentang ketakutan pada jiwa saya
salah satunya adalah mati tanpa sebuah nama besar
tidak sekedar nama baik..

semua orang punya nama baik

saya hanya takut, banyak faktor yang membuat saya sangat takut mati
salah satunya adalah saya belum mempersiapkan kematian saya
saya sama sekali bukan orang baik-baik

semua orang takut mati

tapi saya bukan orang yang menolak mati.
saya tidak minta dilahirkan dan saya juga tidak meminta mati
tapi apa daya kita di dunia, hanya seonggok daging darah dan tulang tak berdaya

Tuhan telah berbuat baik pada saya, sangat baik
paling tidak mental saya waras, saya tidak buta, bisu, lumpuh, ataupun tuli
saya bersyukur sekali saya mendapat telinga yang berfungsi baik
saya bisa menikmati musik yang saya, orang lain, dan alam ini mainkan
saya tidak sulit untuk menikmati musik jenis apapun.

saya bukan orang baik

saya bukan nabi yang dipilih untuk membimbing umat manusia
saya juga bukan seorang pria terpilih yang harus memimpin suatu kerajaan ataupun negara

saya hanya orang biasa dari kalangan yang biasa

saya sangat bangga saya dlahirkan di keluarga terdidik dan terpelajar
karena banyak sekali yang sangat tidak beruntung lahir di situasi yang sulit yang meengharuskan mereka menjadi apa yang sebenarnya mereka benci

saya suka memberontak

entah kenapa sampai umur 20 ini saya sangat membenci sebuah opini orang lain
saya benci beropini, saya benci berargumen mentah tanpa dasar
itu kenapa saya benci politik, walaupun sejak kecil saya sangat suka membaca literatur tentang sejarah dan politik. tapi saya benci semua hal yang rumit dan kompleks

saya lebih suka seperti burung yang terbang tanpa tujuan, mengalun bagai lagu yang dilantunkan para anggota siskamling

Tehnik awal bernyanyi

on Kamis, 21 Juni 2012

banyak dari pen









.

yanyi baik di luar maupun indonesia yang saat ini masih belum bernyanyi dengan baik. karakter vokal menjadi alasannya. misalnya ariel peterpan dengan suara sengaunya, charlie dengan suara seraknya. ataupun vokalis hijau daun yang suaranya menurut saya aneh. 
baik penyanyi band maupun solo harus memiliki tehnik vokal yang baik. karena dengan tehnik, kita akan memiliki range vokal yang lebih luas, power yang lebih kuat, dan yang pasti karakter akan terbentuk dengan sendirinya. 
sebagai penyanyi yang baru belajar, anda harus tahu, untuk apa anda bernyanyi. just for fun? kompetisi? mata pencaharian? maupun untuk rekaman? semua itu harus dibiasakan dengan tehnik yang baik dan benar karena tehnik yang benar akan membuat anda lebih nyaman dalam bernyanyi. setiap orang dianugerahi dengan suara yang berkarakter. akan tetapi tidak semua orang dapat bernyanyi dengan indah, baik, dan benar. semuanya perlu latihan dan praktek langsung bernyanyi diatas panggung maupun di depan penonton.
tehnik vokal tersebut antara lain tehnik pernafasan, tehnik membuka mulut, artikulasi dan lain-lain. karena tidak dibutuhkan waktu yang sebentar untuk dapat bernyanyi dengan baik dan benar. 
tehnik pernafasan
tehnik pernafasan yang digunakan dalam bernyanyi adalah nafas diafragma atau pembatas antara perut dan dada. cara berlatihnya antara lain dengan anda tidur terlentang lalu letakan benda diatas diafragma anda lalu perhatikan apakah benda tsb bergerak atau tida
Sikap Tubuh

adalah mengenai sikap tubuh secara keseluruhan ketika bernyanyi, walau bukan bagian yg terpenting, namun mau-tidak-mau hal ini turut berpengaruh terhadap performa vokal kita..

badan kita mesti tegap, rileks, dan fleksibel.. Bahu jangan di angkat selama bernafas mungkin selama bernyanyi, terutama saat menarik nafas.. dada diperlebar cenderung di majukan ke depan.. kaki agak di jarangkan, agar bisa berdiri seimbang..

Bentuk Mulut


Mulut usahakan agar terbuka lebar bagi pemula, agar resonansi udara dalam berjalan dengan baik.. resonansi dada berguna dalam mengambil nada2 rendah, hidung untuk nada2 tinggi, tenggorokan untuk suara yg jernih (namun jangan menumpukan suara pada tenggorokan, karena akan mengakibatkan kita kelelahan tenggorokannya), dan terakhir kepala bila hendak mengambil nada2 amat tinggi..

Lidah di datar kan selama bernyanyi, dan ujungnya menyentuh bagian belakang gigi seri bawah kita.. Lidah harus se rileks mungkin, karena buat gw pribadi, ini yg sering gw perhatikan dan menjadi yg sulit bagi pemula termasuk gw dulu Rongga mulut seperti kita menguap, jadi prinsipnya agar ruang keluar udara dapat menjadi lebar..

Lebarkan mulut saat bernyanyi dengan nada rendah, karena hal itu dapat membantu..Perhatikan juga bagian atas rongga mulut, usahakan agar selebar dan seluas mungkin, sekali lagi seperti kita menguap..

Ukuran lebar bibir adalah 3 jari (coba masukkan 3 jari ke mulut lo, itulah ukuran minimalnya) Lebarkan mulut ke samping bila hendak mengambil nada2 rendah, gw rasa itu membantu.





Yamaha 112V

Originally the most affordable of the Yamaha Pacifica range (which debuted in 1990, and was designed by Yamaha’s USA team, primarily ex-Ibanez designer Rich Lasner), the 112 first appeared in 1993 and not only overtook all previous (and subsequent) Pacifica models in terms of sales, it actually proved a benchmark for quality and specification.
Back in the early nineties it was not uncommon to see plywood-bodied guitars in the low-end market. Not so the 112, which was made of solid wood. And not any old lump of tree, but solid alder. To advertise this Yamaha offered the 112 in a natural finish. But it wasn’t just the body wood, the Pacifica 112 – from the outset – employed good hardware and pickups and classy design.
Early in 2007 Yamaha introduced an upgraded model in all but price. The Pacifica 112 defies inflation and remains at £199 – the same price as it was back in 1993. Let’s take a closer look at the current model.
While no one has ever disputed the origin of the Pacifica design, its outline is very noticeably different to the Stratocaster. The horns are longer, sleeker and the lower bout appears a little more angular compared to a Strat. Up to this point in its history the 112 has featured a large scratchplate on to which all the pickups and electrics were mounted – like the Strat, but unlike the majority of other Pacifica models that use a more distinct design with the bridge pickup and rotary controls body-mounted, the other two pickups and five-way selector on the scratchplate.
Click here to find out more!
The 112 now follows that style (including a three-ply, as opposed to single-ply, scratchplate material) and immediately the guitar looks less generic with more of the hot-rod vibe that’s so much a part of the original Pacifica design and concept.
The 112 is far from fancy and simply concentrates on the bare necessities. Yet the construction is of excellent quality. We received a two-tone sunburst guitar to evaluate and the matching of the body pieces – two or three, we’re honestly not sure – is extremely good, as is the finishing. Only the very noticeable forearm contour to the body looks a little out of place – a more curved transition wouldn’t distract from the clean, modern design.
The maple neck has a very thin satin finish – it almost feels like it’s been oiled – and is tidily mounted to the body with the standard four screws and neck plate. The neck is well shaped, a full-ish ‘C’ that feels thinner in depth than it actually is. Fretting is excellent from a medium size wire (approx 2.37mm wide x 1.36 high); the ends of the slots are filled, the side edge of the fingerboard is slightly curved, just like an old Fender, not straight like so many low-end guitars. There’s even a little rounding to the top edge of the fingerboard.

It’s not quite James Tyler, of course, but it’s very clear that someone cares and, importantly, understands what a good electric guitar should feel like in the hand. But perhaps most importantly the neck is really solid and stable, there’s minimal whip. Trust us, if looked after this will be a guitar for life.
The original Pacifica six-in-a-line headstock has lasted well and still looks good some 14 years on. A simple silk-screened script logo dominates the functional, square Yamaha logo and the company’s ‘tuning fork’ emblem is thrown in – just in case you don’t already know you’re playing a Yamaha!
A subtle change to the pretty standard vintage vibrato design is the addition of block saddles intended to add a little firmness to the tone. They also give a precise break-point for the string. The saddle height adjustment screws are all the same height and those on the outer saddles protrude – using shorter screws would be dead easy and solve the problem. It remains a basic unit, however, with screw-in arm and no tension adjustment; the block is deep-drilled to lose dead string length and, in theory, help with tuning stability; it’s also heavily contoured – typical of the modern rock guitars of the late eighties/early nineties.
We can’t help thinking that more mass from a standard vintage-style steel block and maybe a push-in arm would be more suitable. Also, the vibrato coverplate has six individual holes for string access whereas one large hole is faster for string changes.
According to Yamaha the pickups have been upgraded, in line with other Pacifica models, with Alnico V-loaded pickups.
“They used to be ceramic-loaded pickups,” confirms Yamaha’s Julian Ward. “We wanted to get that Alnico tone specifically for this guitar but still create a vintage/modern sound. The Pacifica does have its own character – it’s not the most unique – but where it fits is that it’s hugely versatile. It’s not overly vintage but it’s not a super slim-neck rock axe with active pickups either – by design it sits in that middle ground.”
Also new is a coil-split facility for the bridge humbucker – activated by a pull/push switch on the tone control – and even the knobs have received a makeover; they’re now chromed and knurled metal: classy.
Sound

The icing on the cake, of course, is that this £199 Pacifica blows the socks off a vintage Fender, right? Wrong. By design it’s an altogether more modern, brighter and lighter take on a hot-rod Strat. But when we say brighter that doesn’t mean overly shrill. In fact the bridge humbucker will surprise some, it’s beefy without being too mid-range heavy and although the coil-split, which voices the screw-coil, proves a little bland played clean, with a distortion boost it’s a pretty useful gnarly and wiry rhythm voice.
It’s good to have the choice too when mixed with the middle pickup – switching between the full and split coil here is subtle but, especially with cleaner ‘class A’ amp voicings, there’s enough character difference to be useable.
The solo single-coils impress – plenty of percussion and with a little mid-range beef added from the amp these get you to the correct Texas toneland. Neck and middle combined produces a fine modern Strat-like mix – the added brightness will cut through a multi-FX patch nicely.
Hum– cancellation is good too – only the lone single-coils will pick up hum, while any mixes and obviously the full bridge humbucker are nice and quiet. On the down side the tone control gets too muddy fully off; perhaps a different value capacitor could nail a more Clapton-esque ‘woman’ tone. The volume taper, however, is excellent and ideal for subtle changes and smooth violin effects.
The vibrato can lead you into tuning stability problems but that’s the nature of the beast; used for more old-school shimmer it adds a lot (and stays in tune) but don’t expect, without some additional tweaking, for things to come back spot-on in-tune after a bout of heavy down-bending.
 

simple stompbox

DISTORTION
Pretty much self explanatory, distortion pedals make your guitar sound, well, distorted. Generally, this has come to mean everything from smooth tube overdrive to all manner of nasty, dirty, "my amp is exploding" tones and "scooped mids" pedals for death metal madness. The earliest example of distortion used in popular music was the three-note riff that was heard all over the airwaves when the Rolling Stones recorded "Satisfaction" (which, incidentally, was voted the number one rock song of all time by MTV). Jimi Hendrix loved running several pedals in sequence, like a fuzz, a wah and a "Uni-Vibe" (which we'll discuss in a bit). In fact, over 30 years after his tragic death, Jimi was still voted the world's greatest guitar player! Can you imagine having that kind of impact after a brief four-year career?
WAH PEDALS
Originally described by critics as a "war toy," the wah-wah seems to go in and out of fashion. Eric Clapton used it to great effect on Cream's classic "White Room" and "Tales of Brave Ulysses" while Jimi Hendrix used it on many of his most memorable songs, which include the classic "Voodoo Chile (Slight Return)." Vox has reissued its classic wah pedal, while newer models are available from Tech 21 (the "Killer Wail") and Dunlop.
DELAY
Early rock music used tape-based delays to produce everything from fast "slapback" echoes to the wild, multiple delays produced by units such as Roland's Space Echo. Later, in the 1970s, analog delays were introduced that could produce delays as long as two seconds or more, though the delays quickly lost a lot of high frequency information. The 1980s saw the introduction of the modern digital delay which could produce a wide range of full-frequency time-based effects, like chorus and flange, as well as traditional echo..echo...echo...
CHORUS
This is the first of our time-based effects. When a slightly detuned and delayed "clone" of a guitar signal is played back with the original, it produces a subtle (or sometimes not-so-subtle) doubling effect, which produces a thicker, lusher tone. The original effect was produced by the Boss CE-1 Chorus Ensemble, though later effects would add multiple detunings and delays to produce a rich, glossy animation. Andy Summers of The Police was quick to use the chorus effect, and it has only gotten more popular over the years.
FLANGER
The earliest "flanger" effects were produced by playing back the same sound on multiple tape decks, while the engineer used a finger on the tape reel's edge (or flange) to speed up or slow down the duplicate signal. This produced a wild jet-like sweep of the material's harmonic structure. Eventually, the effect was duplicated using advanced digital delays set to extremely short delay times and inverting the signal's phase.
Which brings us to...

PHASER
Another time based effect that's somewhere between the extremes of the flanger and the glossiness of the chorus pedal. The groovy swirling effect is all over the first two Van Halen albums. Early Phasers were supposed to recreate the complex sound of a B-3 Leslie cabinet, which had a rotating horn and a spinning drum under a 15-inch woofer. Though the sound wasn't really close, it was better than hauling around a 250-pound Leslie cabinet. It's now become a stage and studio staple.
  UNI-VIBE
Jimi Hendrix loved the original Uni-Vibe, which was sort of a rudimentary chorus effect with some detuning effect similar to vibrato. The original pedals (when you can find one) fetch astronomical prices, but the watery textures have now been duplicated via digital modeling and in some "botique" stomp boxes. The late Stevie Ray vaughn and Eric Johnson have both been known to use this signature sound on their albums.
COMPRESSOR
This is a classic studio effect that found its way into various stomp boxes in an effort to increase sustain. The earliest units were fairly noisy, but modern compressors have added noise gates that cut off the signal once it reaches a particular level.
  AUTO-WAH
Best known in its earliest incarnation in the Mu-Tron III Envelope Follower, which was actually part auto-wah and part triggered filter. Almost every manufacturer has some sort of version of this classic effect. In fact, you can't walk through Sweetwater's guitar demo room without tripping over a dozen or so . . . just kidding.
MULTI-EFFECTS
The king of effects boxes is the multi-effect pedal, which can include everything above and a bunch of stuff that hasn't even been categorized yet. These are available in all flavors from basic to complex. And by complex, we mean chaining so many effects that it doesn't even sound like a guitar any more. These monsters can replace a whole truckload of stomp boxes that tend to end up in your gig bag all tangled together (when they're not busy chowing down on 9-volt batteries).
Most of these effects (and a wild selection of guitar tones) will be heard in a forthcoming "Tech Notes Online" column called "POD People" from our very own guitar genius (hey, he made us say that) Jim Miller.


source http://www.sweetwater.com/shop/guitars/guitar-pedals/buying-guide.php

Raisa Andriana, suara jazzy yang manis

on Rabu, 16 November 2011
Raisa AndrianaRaisa Andriana (lahir di Indonesia, 6 Juni 1990; umur 21 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia mulai dikenal setelah membawakan lagu berjudul Serba Salah. Sebelum bernyanyi solo, Raisa merupakan vokalis band bentukan Kevin Aprilio bernama Andante.

Album Raisa yang bertajuk Self-Titled (2011) diproduksi dan dirilis oleh Solid Records dan Universal Music Indonesia. Produser album tersebut adalah 3 musisi muda berbakat dari band papan atas di Indonesia, yaitu Asta Andoko (RAN), Ramadhan Handy (Soulvibe), dan Adrianto Ario Seto (Soulvibe), didukung oleh Nanda Oka dan Asta Andoko yang berlaku sebagai Executive Producer untuk label Solid Records.

pemilik akun twitter @raisa6690 ini dikenal sebagai penyanyi berbakat dengan suara yang khas




Album pertamanya bertajuk Raisa self titled berisikan 9 lagu yag diantaranya ada satu lagu berbahasa inggris plus indonesia "could it be love". single hits pertamanya yang berjudul apalah (arti menunggu) langsung mengisi chart-chart musik di radio dan televisi swasta di indonesia. bahkan dengan manisnya membawakan lagu "andai" dari GIGI yang dibawakan di acara Harmoni SCTV dengan arransmen Dewa Budjana orkestra yang menambah efek magis di lagu itu diisi dengan suara serak-serak basah yang dimiliki raisa.

TRISUM (Tohpati, Balawan, Budjana). indonesia dalam dawai gitar

on Rabu, 27 Juli 2011


Penikmat musik instrumental memang sedikit atau boleh dibilang terbatas pada kalangan tertentu (segmented), Tetapi, musik jenis ini harus tetap ada. Demikian pendapat musisi I Dewa Gede Budjana, yang bersama rekannya sesama gitaris, Tohpati, membentuk kelompok Trisum.
Budjana, begitu panggilan akrabnya, mengungkapkan bahwa dirinya bersama Tohpati memang membentuk Trisum sebagai wadah penampung kreasi idealis mereka sebagai guitar player, yang tidak bisa dimasukkan ke dalam pasar musik pop.
"Kan ada karya-karya yang tidak bisa masuk di pasar pop. Untuk itu saya dan Tohpati membentuk Trisum," kata Budjana, yang juga dikenal sebagai gitaris GIGI Band, saat peluncuran album 1st edition Trisum Feat. Balawan di Jakarta, Kamis (10/5).
Hal senada diungkapkan Tohpati, tatkala ia mengatakan, "Ini proyek idealis".
Meskipun diprakarsai oleh mereka berdua, konsep kelompok musik instrumen Trisum dirasakan lebih pas jika menampilkan tiga gitaris utama.
"Kalau main gitar berdua terkadang teraas ada yang kurang," kata Budjana. .
Pakai pendukung
Trisum terbentuk pada 2004, ketika Budjana, Tohpati dan Balawan tampil sepanggung dalam sebuah acara peluncuran produk.
Setahun kemudian mereka bertiga kembali tampil di pergelaran Java Jazz Festival di JHCC Senayan dan dalam konser bertajuk 'Dialog Tiga Gitar', di Graha Bhakti Budaya, TIM pada akhir 2005.
Sejak membentuknya dalam bentuk band, ketiga gitaris tersebut dalam setiap penampilannya selalu didukung oleh sejumlah musisi, termasuk Indro Hardjodikoro (bas), Sandy Winata (dram), Eugen Bounty (klarinet), Bang Sat (seruling) dan Jalu Pratidina (kendang).
Mereka pula yang membantu penggarapan album debut 1st Edition Trisum, yang dilakukan secara live agar mendapatkan roh dan suasana seperti tatkala kelompok ini menggelar konser.
Dirilis SonyBMG dalam format CD regular dan deluxe sebanyak 20.000 keping, album ini berisi sembilan komposisi, termasuk Cublak Cublak Suweng, Jali-Jali, Keroncong Kemayoran (Ismail Marzuki), Kromatiklagi (Budjana), Mahabarata (Tohpati), Guitar in the Midnigt (Budjana, Tohpati), dan Mainz In My Mind (Balawan).
Menjawab pertanyaan wartawan, Budjana mengatakan, "Konsep awalnya memang saya dan Tohpati, tapi kemudian kami melihat ada satu gitaris dengan skill luar biasa, Balawan, dan selama ini kami selalu bertiga".
Ia juga mengatakan, konsep musikal yang diusung bebas, tidak terpatri pada satu jenis jazz-fussion seperti sekarang.
"Kalau nanti bintang tamunya gitaris rock, ya kita main rock. Kalau kita bisa," katanya sambil tertawa.
 
 

from. kapanlagi.com

dewa budjana gear setup

http://www.dewabudjana.com/v2/gear.jpg

Parker Fly Mojo - Natural Mahogany Finish with Deluxe Parker Hardshell Case



Product Features

  • Solid mahogany body with Mahogany neck
  • Seymour Duncan Jazz and JB pickups
  • Carbon glass fretboard
  • Fishman 6-element piezo system
  • Includes hardshell case

Product Details

Shipping Weight: 28 pounds
ASIN: B00113L9BE
Amazon Bestsellers Rank: #100,640 in Musical Instruments

Product Description

A solid mahogany body and neck provide warm resonance to the thick, bold tone generated by genuine Seymour Duncan Jazz and JB pickups. It's light in weight but far from a lightweight, churning out creamy, luscious sounds with enhanced lower mids. Famous Fly playability and comfort is combined with simpler knobs and a more ergonomic control layout, easier-to-use vibrato, improved electronics, carbon glass fretboard, Fishman 6-element piezo system, and Sperzel locking tuners.Includes hardshell case.
 My guitar is the Parker Fly Mojo model in clear coat Honduran Mahogany and with the metal flake brown-bronze back. My comments do not apply to any of Parker's bolt-on neck or foreign made guitars - I have only played two and both were in a different league from a set neck, domestically made Fly.

After the odyssey through Fenders, Gibsons, a Rick, and a Hofner, I have been finding myself using this guitar most of all. You should know that I have not gigged in years, I rarely take a guitar out of the house, and I play daily for my own enjoyment and occasionally with a friend, so my preferences and needs may not be the same as yours.

Some real plusses for me:

1. Truly great craftsmanship. The guitars made since Parker sold out are at least as well made as those before. Fit and finish are second to none.

2. Very versatile array of sounds. The Seymour Duncan humbuckers can replicate so many guitars, and the proprietary piezo-tremolo unit works better than any I have used. The piezo sounds a lot like an acoustic guitar that is equipped with a piezo bridge and it would come in handy for those who only want to schlep one guitar to a gig. Using the stereo cord that comes with the fly, and doing what they suggest, playing the humbuckers through your guitar amp and the piezo through the PA, you get a really nice differentiation of electric and acoustic.

3. The way the carbon fiber fretboard reinforces the neck is great. This guitar stays in tune, even with the tremolo unlocked. The fret board is always smooth when doing extreme bends (I just played my Tele with a one-piece cocobolo neck and noticed the difference right away.) Stainless steel frets are a plus for longer wear and are easy to keep shiny, particularly since they came from the factory without needing any dressing.

4. I like Sperzel tuners a lot and have put them on most of my Fenders. This also contributes to staying in tune.

5. The guitar is light at no more than 5 pounds. With many of the most popular guitars weighing in at twice that weight or more, the difference is very noticeable when grabbing it off the stand by the heck from the coach, for example (I do that a lot), or when standing up with it on for a while. I had though that sustain was greatly influenced by the weight of the guitar as physics suggests it should, but I have come to think that rigidity is a much more significant factor in sustain based on my experience with this Fly.

6. The neck is very thin. I like this for `living-room playing' and it can help my speed in reaching for a fret or jumping around the positions on the neck. When people try the Fly they always remark on the thinness of the neck and how `playable' it is compared to their favorite guitars.

7. Balance is tremendous. That long top bout puts the strap button just where is should be to let you take your hand off the neck without fear of the neck nose-diving towards the floor.

8. Visual appeal. Beauty is in the eye of the beholder, but even those who do not relish the design have to admit that it is a great piece of sculpture.

On the not-so-plus side:

1. The case. Although this is a guitar review, since the case comes with it I feel that is is fair game. The case is poor quality, poor design, and flimsy. There are two Parker hard shell cases and I am panning the one with the big "Parker" embossed on the front. There is another Parker HSC with a small "Parker" embossed in the lower left corner of the front and I am thinking that I will get one of those. Parker sells the big logo version on their website; the one I am looking for is available from the big music stores for a little over a hundred.

2. The thin neck. Okay, you're right, I listed this as a plus, too, but I find that my hand can get a little cramped-up when playing long and hard. Otherwise, no problem. I take breaks, and besides, my hand cramps-up sometimes when I'm not playing the Parker.

3. Battery. Although it is easy to get to and swap for a new one, and the piezo requires it, and it's expected to last for over a hundred hours, it seems that I am replacing it more frequently than I should have to; maybe I'm inaccurate on this. A second battery holder might be nice. For now, I just keep a spare in the case (yeah, the case I hate.) When considering new guitars for the collection, I tend to shy away from those requiring a battery; I also have become much fonder of hard-tails - I hardly ever use a tremolo anyway.

4. Slide. This is a poor choice to set-up as a slide guitar. For slide use, I favor the old and heavy solid bodies where the neck is thick and the frets aren't so great any more. Also, I don't like to get my slides (I use the big, thick, heavy brass slides) anywhere near a guitar with a finish I want to preserve. They eventually will take a toll.

I really like this guitar and if it disappeared, I would buy another. If you see one in a music shop, by all means, pick it up and try it. You won't pull any muscles in your arm when you lift it!




http://www.amazon.com/Parker-Fly-Mojo-Mahogany-Hardshell/dp/B00113L9BE

ARMAND MAULANA

on Minggu, 24 Juli 2011
Armand Maulana yang memiliki nama lengkap Tubagus Armand Maulana adalah vokalis band GIGI. Bungsu dari enam bersaudara pasangan (alm) Tubagus Ahmad Drajat dan (almh) Enden Khadijah ini adalah adik penyanyi dan pembawa acara, (almh) Nita Tilana.
Pria yang lahir di Bandung, 4 April 1971 ini menyukai musik sejak kecil. Saat duduk di bangku SD, Armand pernah tercatat sebagai anggota Genesis Fans Club, sebuah kelompok penggemar kelompok musik rock Genesis. Armand juga pernah menjadi anggota kelompok teater musikal saat SD.
Armand memulai karier di dunia hiburan tanah air sebagai finalis Cover Boy majalah Mode di tahun 1985. Saat itu, Armand masih duduk di kelas 2 SMP 13 Bandung.
Saat SMU, Armand bergabung dengan kelompok vokal di sekolahnya dan selalu menjadi vokalis utama. Armand yang mulai menyadari kemampuan vokalnya berinisiatif membentuk band yang beranggotakan personel band pengiring kelompok vokalnya itu.
Karier menyanyi mulai dijalani Armand secara profesional sejak dia bergabung dengan Next Band pada tahun 1990, dan sempat bergabung dengan Trio Libels pada tahun 1991. Di tahun 1992, Armand merilis album solonya bertajuk KAU TETAP MILIKKU.

Akhirnya pada tanggal 22 Maret 1994, Armand bersama-sama dengan Aria Baron, Thomas Ramdhan, Ronald Fristianto, dan Dewa Budjana mendirikan sebuah kelompok band dengan nama GIGI yang masih bertahan sampai saat ini.
Armand menikah dengan penyanyi Dewi Gita dan telah dikaruniai seorang anak, Naja Dewi Maulana (lahir Oktober 2001).  Kesibukan Dewi Gita sekarang sering kita lihat di layar televisi sebagai sinden di acara OVJ.

ciri khas suara armand yang sangat "ngerock" adalah ciri yang sudah sangat dikenal penikmat musik indonesia. akan tetapi armand mampu membuktikan bahwa suaranya juga terdengar manis. contohnya pada lagu 11 januari, nirwana, damainya cinta, dll.

geliat musik aliran keras indonesia

on Minggu, 17 Juli 2011
Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album ketiga God Bless, “Semut Hitam” yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.

Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal.

Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (GN’R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary). Beberapa band diatas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi `sekolah lama’, bangga menjadi band cover version! Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock Se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia. Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock N’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.

Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai istri oleh (alm) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan juga
mantan vokalis Rotor.

Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini. Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock underground manggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Di luar itu, pentas seni MA dan acara musik kampus sering kali pula di “infiltrasi” oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).

Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia, Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama setelah Sepultura sukses “membakar” Jakarta dan Surabaya, band speed metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawah label Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album speed metal klasik Indonesia era 90-an. Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, Behind The 8th Ball (AIRO). Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim) lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding band seangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, Aquarius Musikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album `The Head Sucker’. Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.

Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air, mungkin baru di paruh pertama dekade 90-anlah mulai banyak terbentuk scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal sering terlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan internasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah.

Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin mengkilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul `It’s A Proud To Vomit Him’. Album ini direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta dengan sound engineer Harry Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan PAS).

Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground pertama di Jakarta, Brainwashed zine. Edisi pertama Brainwashed terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Diketik di komputer berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ paste tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska. Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997 Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di internet (www.bisik.com). Media-media serupa yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid Noise zine, Gerilya zine, Rottrevore zine, Cosmic zine dan sebagainya.

29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café. Acara bernama “Underground Session” ini digelar tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaek Ahmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif. Lahirnya scene Brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di sana (Subnormal Revolution) yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster Café diluar dugaan malah banyak melahirkan venue- venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie. Café Kupu- Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 café dan Café Gueni di Cikini untuk scene Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang paling `netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yang terletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen `menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”, sebuah rentetan show akhir band Bandung ini sebelum membubarkan diri.


Scene Punk/Hardcore/Brit/Indie Pop

Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang diawal kiprahnya sering meng-cover lagu-lagu Sex Pistols lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawknya. Uniknya, pada perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre british/indie pop ala The Stone Roses. Konon, peristiwa historik ini kemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997 mereka sempat merilis album debut bertitel `…Jang Doeloe’. Generasi awal dari scene brit pop ini antara lain adalah band Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V, Parklife hingga Death Goes To The Disco.

Pestol Aer memang bukan band punk pertama, ibukota ini di tahun 1989 sempat melahirkan band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II pada akhir 1994. Album debut Antiseptic sendiri yang bertitel `Finally’ baru rilis delapan tahun kemudian (1997) secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang memainkan musik ala Jane’s Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak sempat merilis rekaman.

Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots yang awalnya sering manggung meng-cover lagu-lagu The Exploited. Nggak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel `Living Comfort In Anarchy’ via label indie Movement Records. Komunitas-komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90-an tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di Rawamangun.

Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth Against Fascism, Anti Septic, Straight Answer, Dirty Edge dan sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.

Bandung scene

Di Bandung sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yang menjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya Studio Reverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio ini digagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketika semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro (akronim dari distribution) yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya. Selain distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang bertitel “Masaindahbangetsekalipisan.” Band-band indie yang ikut serta di kompilasi ini antara lain adalah Burger Kill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta.

Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain PAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel “Four Through The S.A.P” ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas tak bernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta. Yang mengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End dari album Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamar Krisna. Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salah satu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002 sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) dan Puppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya yang self-titled. Album ini kemudian dibantu promosinya oleh Majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonus kaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.

Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuah komunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana, komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri Studio Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macam Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic Membrane, Infamy, Burger Kill dan sebagainya. Di sinilah kemudian pada awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama Revograms Zine. Editornya Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yang memiliki single unik berjudul “Golok Berbicara”. Revograms Zine tercatat sempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-band metal/hardcore lokal maupun internasional.

Kemudian taklama kemudian fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley bangkrut tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis. Serunya di Bandung tak hanya musik ekstrim yang maju tapi juga scene indie popnya. Sejak Pure Saturday muncul, berbagai band indie pop atau alternatif, seperti Cherry Bombshell, Sieve, Nasi Putih hingga yang terkini seperti The Milo, Mocca, Homogenic. Begitu pula scene ska yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum trend ska besar. Band seperti Noin Bullet dan Agent Skins sudah lama mengusung genre musik ini.

Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di `baptis’ di sini belum afdhal rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiket masuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala oleh para calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini. Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burger Kill, band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini. Belum lagi majalah Trolley (RIP) dan Ripple yang seakan menjadi reinkarnasi Aktuil di jaman sekarang, tetap loyal memberikan porsi terbesar liputannya bagi band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T. Coba cek webzine Bandung, Death Rock Star (www.deathrockstar.tk) untuk membuktikannya. Asli, kota yang satu ini memang nggak ada matinya!

Deluxe Lone Star Stratocaster

There have been about a million variations on the classic Stratocaster theme since its 1954 introduction. Some of them have been less than obvious to the casual glance, like changes in neck construction methods and the move to 3 ply pickguards back in the early days. Others have been pretty over the top, like the old Ritchie Sambora signature model with a Floyd Rose bridge and star shaped inlays. The Deluxe Lone Star Stratocaster doesn’t try to be too drastically different from the classic Strat blueprint, so what is it that sets this one apart, and why has Fender decided to reissue the guitar only a few years after discontinuing it?
The chief difference with the Lone Star Strat is its choice of pickups, all of which have a distinctive Texas pedigree. The neck and middle pickups are Fender’s own Texas Special single coils. These pickups first surfaced on the original Stevie Ray Vaughan signature model in the early 90s. They’re wound hotter than the average single coil for thicker, fatter tone with a higher output for that down and dirty blues sound. They’re especially happy when kicking a cranked valve amp right where it counts. The bridge pickup is a Seymour Duncan Pearly Gates Plus model, which Seymour himself designed when Billy Gibbons of ZZ Top wanted a pickup to make any guitar sound like his beloved 1959 Gibson Les Paul, a guitar which Gibbons named …Pearly Gates. Electronics include tone controls for the bridge and neck pickups, and a 5-way pickup selector switch. Position 2 on the switch combines the full humbucker with the middle single coil. Some companies might split the humbucker into a single too for this setting, but the extra toughness of the full humbucker is in keeping with the Lone Star vibe.
Besides the pickups, appointments on this model include a brown shell pickguard, a vintage-tinted C-shaped maple neck with rosewood fretboard and 21 medium jumbo frets. The fretboard radius is a roundish 9.5”. With this type of radius, a very low string height can sometimes result in choked out notes when bending, but careful maintenance of a good setup can avoid this. The factory setup has the strings at a nice medium height, great for digging in hard for gutsy, tough blues, and for really grabbing the strings for big soulful bends.
The Lone Star Strat has a vintage style synchronized tremolo bridge, and although this is in no way a Stevie Ray Vaughan signature model, it does make me reflect on how SRV never made the switch to guitars with a two-point knife edge tremolo, so it in the spirit of Texas blues it makes sense to see the old six-screw version represented here. The body is alder, a common wood for Stratocasters, with a nice balance of frequencies.
The Pearly Gates humbucker sounds killer on a Strat. The upper midrange response makes this a great axe for those who want a Satriani style tone but don’t want to play a high tech Ibanez to get it, and when driving a dirty, overdriven amp the sound opens up beautifully. The pickup responds especially well to Jeff Beck-style finger picking, and it tracks very well for fast playing.
The Texas Specials have that up-front, punchy sound associated with SRV: tight bass, immediate impact, and open treble. There is a wide range of tonal flexibility available by adjusting the guitar’s volume control, and without too much work you should be able to find a sweet spot with the volume at about 2/3 of the way up where the single coils sound more bell-like, before cranking it back to 10 for more fatness and grunt.
The Lone Star Stratocaster is for those who want a traditional Strat but need a bit more power and flexibility. It’s a Stratocaster for those who like their steak rare or, to partially quote Homer Simpson, people who like their beer cold and their TV loud.
SPECS:
Body: Alder
Neck: Tinted maple
Fretboard: Rosewood, 21 medium jumbo frets, 9.5” radius.
Pickups: Seymour Duncan Pearly Gates Plus (bridge), Fender Texas Special (neck, middle).
Extras: Deluxe padded gig bag.

DigiTech Whammy WH4 Pedal review


The DigiTech Whammy Pedal first arrived on the scene in the early 1990s (I remember first seeing it in an ad in the British magazine Guitar way back then), and was quickly adopted by the big wigs of the shred movement, such as Steve Vai and Joe Satriani, for high pitched sonic freakout squeals and other tricks. The pedal was originally designed and marketed as a way of copying whammy bar effects on fixed bridge guitars such as Les Pauls and Telecasters, right around the time that dive bombs and racing car effects started to go out of fashion. However, players soon realised that the ‘pitch up’ settings were of more musical use than ‘pitch down,’ and a sonic revolution ensued.
The more textural side of the Whammy Pedal effect was explored by Jimmy Page on the Coverdale-Page album, where it was used to simulate slide guitar in the song “Over Now.” Tom Morello of Rage Against The Machine continues to use the Whammy to good effect as a pitch shifter and to simulate DJ scratching, and Living Colour bass player Doug Wimbish is rarely seen without a Whammy underfoot.
I got my first Whammy Pedal in about 2004 or so, and while I later traded it in when I was lured by a multi effects pedal, I’m planning to buy another soon (A WH4 was provided on loan for the purposes of review). I’m such a Whammy Pedal geek that I even had an ad for the WH-4 reissue stuck up on my wall for a while. My name is Peter, and I am a Whammy Pedal Addict.
Back to the WH4. The Whammy effect is turned on and off by a switch at the bottom right corner of the unit, while a wah-style expression pedal provides for realtime control of the effect itself. An effect matrix with LEDs and a control knob allow you to select the basic setting from three effect groups: Harmony, Whammy, and Detune. Options in Harmony mode, with the pedal down and up respectively: Octave down/Octave up; 5th down/4th down; 4th down/3rd down; 5th up/7th up; 5th up/6th up; 4th up/5th up; 3rd up/4th up; flat 3rd up/3rd up; and 2nd up/3rd up. Detune modes include Shallow and Deep, for doubling or chorus effects. Whammy settings include 2 octaves up; 1 octave up; 1 octave down; 2 octaves down; Dive Bomb; and Drop Tune. The WH4 updates the original WH1 with MIDI control (as well as the Dive Bomb setting, which gives the effect of a whammy bar pushed all the way to the body of the guitar). So now you can program patch changes via your MIDI controller, very handy indeed if you wish to switch from pure, straight octave-up mode for one part of a song, and a harmony setting for another.
The Whammy has wet and dry outputs, for sending an unaffected signal to one amp and the effected one to another for extra wide harmony or chorus effects. Just imagine stomping on the pedal and having your original note coming out of one amp, while the other is blasting out the same riff a 5th below (hint: try this with the groovy main section of Steve Vai’s ‘The Animal’). When only the wet output is used, it combines a dry signal with the effected one.
By the way, I like to place the Whammy Pedal first in my signal chain, so my rig responds to it just like it would if I actually bent the note that far with my fingers. This also helps to drastically reduce the digital artefacts you hear if you run the unit through your effects loop, and also allows it to track more cleanly than if it had to distinguish your notes through a sea of effects and distortion. However, if you plan to use it for harmonizer effects it will sound better in the effect loop.
The most logical (and fun) thing to do with the Whammy pedal is set it to 1 or 2 octaves up and step on that sucker for wild “Weeeeeeee!” sounds. Chances are that this is the very first thing pretty much everyone does when they first get their feet on one. But there’s so much more to it than just making monkey noises and playing Satch’s “Cool #9.” The Detune settings can be operated by the rocker pedal to precisely time chorus effects to the tempo of the song; can be left static in Shallow for that Eddie Van Halen wide stereo sound (from the 5150 album onwards); or can be set to Deep for a similar effect to the automatic double tracking used on the second guitar solo of Pink Floyd’s “Money.” The 5th up/6th up setting is great for faking pedal steel lines with a clean tone – just hold a note and rock the pedal for authentic B-Bender-type licks.
The 4th up/5th up setting is home to some unique sounds used by Vai on “The Blood And The Tears” and “The Ultra Zone,” and while different players prefer to place the pedal in different points in the signal chain, this particular setting seems to work especially well as the first pedal your guitar plugs into. At one rehearsal I used this setting with a fuzz pedal, and the shifting harmonic overtones and feedback were beyond cool.
The octave down Harmony settings add a lot of girth and muscle to low riffs: try the Octave Down pedal position while using the Octave Down/Octave Up setting to add a lower octave to chunky single-note riffs, then emphasise specific notes by pressing the pedal down to raise the doubled note by an octave for a cool fake pinch harmonic sound.
The DigiTech Whammy is a gateway to creativity, and while it’s easy to get caught up in some of the more classic tricks and settings, its’ worth delving that little bit deeper to see what unique sounds you can come up with. The sound of this pedal can vary wildly depending on where you place it in the signal chain, and luckily DigiTech seem to be very aware of what kind of punishment players could put the unit through in the heat of passion, as it’s very solidly built – able to withstand a hefty stomping and keep going.
Specs:
Sample Rate: 46.875 kHz
Frequency Response Dry: 20 Hz to 20kHz
Frequency Response Wet: 20 Hz to 12kHz
Signal to Noise Ratio: Greater than -95dB (A weighted); ref = max level, 22 kHz bandwidth
THD: 0.006% (1kHz); ref = 1dBu w/ unity gain
A/D Conversion: 24-bit
D/A Conversion: 24-bit
Max Input: +8.8 dBu
Max Output: +8.8 dBu
Pitch Bend: +2/-3 Octaves
Detune: -4 to -30 cents
Dimensions (L x W x H): 8 x 6.3 x 2.5 in.
Weight: 1.6 kg

ular raksasa 17 meter

ular raksasa
Foto diatas adalah foto satu dari dua ular raksasa yang ditemukan oleh para pekerja Cina yang sedang mengerjakan proyek pembukaan jalan baru diluar kota Guping, provinsi Jiangxi.
Mereka awalnya sedang menggali tanah menggunakan bulldozer.
“Pada proses penggalian yang ketiga, si operator melihat ada darah pada tanah yang sedang digali. Dan pada proses penggalian berikutnya ular tersebut muncul dengan kondisi sekarat.”, kata sebuah sumber.
“Pada waktu yang hampir bersamaan, ular boa raksasa yang kedua muncul dengan mulut yang terbuka. Si operator bulldozer langsung ketakutan saat itu, dan bersamaan dengan pekerja lain mereka segera melarikan diri.”
“Ketika pekerja-pekerja tersebut kembali ke lokasi, ular boa yang terluka telah mati, sementara ular yang satunya lagi menghilang.”
Sumber tadi kemudian mengatakan, si operator bulldozer tersebut begitu trauma sehingga ia terkena serangan jantung dan dalam perjalanan ke rumah sakit ia meninggal.
Ular boa yang mati tersebut memiliki panjang 16.7m dengan bobot 300kg, dan diperkirakan berumur 140 tahun.
Namun, pemerintah Cina setempat menyangkal berita tersebut dengan mengatakan bahwa cerita dan foto yang tersebar di internet terlalu dibuat-buat.

tips membeli symbal

buat temen-temen yang merintis karir jadi drumer ato sekedar pengin jadi penjual alat musik, posting ini wajib dibaca.


Setiap Cymbal berbeda! dan seorang Drummer perlu mencari suara apa yang paling pas untuk drum set mereka.
Berikut adalah beberapa hal yang perlu anda pertimbangkan sebelum pergi ke toko musik saat membeli cymbal untuk drum set Anda.

Bawalah Stick Anda Sendiri!


Ketika Anda pergi ke toko yang menjual drum set. Anda perlu membawa stick Anda sendiri untuk digunakan ketika Anda sampai di sana. Anda akan lebih nyaman dengan stick Anda sendiri dan bisa merasa suara cymbal akan sangat berbeda menggunakan stik yang berbeda dan Anda akan mendapatkan rasa keliru atau tidak seperti yang Anda inginkan. Alasan lain untuk membawa sendiri stick sendiri sebenarnya sederhana, suara cymbal tidak sama bunyinya dengan stick yang berbeda! Terutama Cymbal Ride / Hi-Hats, di mana Anda memukul cymbal tersebut terutama dengan Heat dari stick itu. Tergantung pada stick Anda terbuat bahan apa dan apa jenis bahan dari head (kayu / nilon / karet / dll) cymbal akan memiliki karakteristik yang berbeda. Perlu diingat bahwa setiap Cymbal berbeda! dan seorang Drummer perlu mencari suara apa yang paling pas untuk drum set mereka.

Ajaklah Teman, Jangan Pergi Sendiri!

Sama seperti berenang di danau sendirian, itu bukan ide yang bagus untuk pergi membeli cymbal sendiri. Ajaklah seorang teman. Anda harus mampu mendengar bagaimana cymbal Anda terdengar dari kejauhan. Anda mungkin merasa suara cymbal bagus ketika anda memukulnya, tetapi dari jarak 20-30 kaki mungkin akan terdengar mengerikan. Ketika Anda selesai memukul cymbal berdiri kembali dan suruh teman Anda memukulnya, dan dengarkan suara cymbal tersebut dari kejauhan.

Cari Apa Yang Anda Sukai!

Saat Anda pergi untuk membeli cymbal pastikan untuk mengabaikan cymbal yang “direkomendasikan” oleh seorang sales, dan tentukan sendiri yang Anda suka. Bahkan jika Anda Menemukan sebuah Cymbal ataupun drum set yang lebih murah daripada apa yang sedang “direlomendasikan”, oleh orang-orang di belakang kasir.

Mainkan Semua Merek!


Setiap nama besar produsen Cymbal (Zildjian, Sabian, Paiste dll) membuat jenis cymbal yang sama. Ketika Anda sudah sampai di toko yang menjual drum set, coba habiskan beberapa waktu bermain-main dengan masing-masing merek. Misalnya, jika Anda akan membeli sebuah Cymbal crash 18 inchi, periksa masing-masing merek dan dengarkan yang bagaimana suara yang Anda sukai. Anda tidak hanya akan menemukan suara yang normal dari crash 18 inchi tetapi Anda akan menemukan varian di atasnya. Sebagai contoh, Cymbal bisa jadi " finishing yang sempurna " (A Zildjian) atau mungkin dari seri yang membuat suara crash lebih dry (Zildjian K).
Sesuaikan dengan drum set yang Anda miliki.

Bawalah Brass Anda Sendiri!

Jika Anda sudah memiliki cymbal, bawa ke toko musik untuk membandingkannya dengan bagaimana yang ingin Anda beli. Ini adalah hal yang besar untuk dilakukan terutama ketika upgrade, telinga Anda akan mulai mendengar tonalitas lebih baik dari cymbal baru dibandingkan dengan bagaimana suara cymbal yang sudah Anda miliki!

Jadilah Diri Anda Sendiri!

Sekali lagi, belilah apa yang Anda Suka. Kembangkan gaya dan suara Anda sendiri. Jangan membeli cymbal hanya karena “rekomendasi” dari teman Anda atau yang dipaksakan oleh yang sales ingin mendapat komisi besar.

Bersenang-senanglah!

Anda baru membeli beberapa cymbal baru anda inginkan selama ini, bersenang-senanglah!
Pukullah mereka dengan nyaring, mainkan drum set anda dengan gaya Anda, Have fun! Dan cobalah untuk tidak terlalu banyak menghabiskan uang Anda! Semua A Custom yang mengkilap dapat menambahkan “kepercayaan diri anda”. ^_^

Anda harus selalu ingat bahwa setiap Cymbal berbeda! dan seorang Drummer perlu mencari suara apa yang paling pas untuk drum set mereka.

YAMAHA C390 Classic guitar

http://www.galerimusikindonesia.com/components/com_virtuemart/shop_image/product/076bbbe3bad81b0a5005d5840ca71093.jpg
 ini gitar yang saya pake buat ikut perkuliahan di kampus saya untuk mata kuliah gitar klasik dasar.
saya cuma pengin share kualifikasi gitar ini.

Price: Rp.900.000  (gak tau kalo naik apa turun) saya dapat di crescendo yogyakarta aja 990.

The craftsmen at Yamaha specially redesigned the guitars in their C series with slightly thinner sides and back as well as a thinner finish to deliver better sound response. These instruments also have thinner necks to increase playability, and are slightly lighter in weight, offering greater volume as well as extended comfort. The overall results are instruments that deliver a mature, balanced tone throughout their entire range with exceptional quality, durability and cost performance.
Yamaha C390 Classical Guitar Features:
  • Top: Solid Sitka Spruce
  • Back & Sides: Rosewood
  • Neck: Nato
  • Fingerboard: Ebony
  • Bridge: Rosewood
  • Strings length: 650mm (25.6")
  • Tuning Machine: Gold (YTM-06)
  • Finish: Gloss 
tips beli gitar ini. belilah dengan orang yang paham betul karakter gitar klasik yang bagus. pilih yang suaranya open dan pegangannya enak. pilih yang bersih tanpa cacat. oke oke